Simpul Gordian Jakarta

Investing in Belize

Simpul Gordian Jakarta

Jakarta
Spread the love

Mengapa jatuhnya Maduro memalukan Indonesia

eyesonindonesia

Sementara penangkapan spektakuler Nicol Mad Maduro oleh unit-unit AS pada awal Januari 2026 menghantam seperti bom, hal itu tetap sangat berhati-hati di Jakarta. Jatuhnya diktator Venezuela, yang mempertahankan mimpi buruk regional selama bertahun-tahun, dipandang di Amerika Selatan sebagai kemungkinan fajar baru. Namun bagi Indonesia, negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara, operasi tersebut menimbulkan pertanyaan yang sangat tidak nyaman tentang kedaulatan dan preseden global.

Sebuah ‘Preseden Berbahaya’

Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) memecah kesunyian dengan pernyataan yang mengungkapkan ‘keprihatinan yang mendalam’. Tidak ada ucapan selamat atas pembebasan rakyat Venezuela, tetapi sebuah peringatan: tindakan militer AS sepihak menetapkan ‘preseden berbahaya’ dalam hubungan internasional.

Bagi Jakarta, yang mendasarkan kebijakan luar negerinya pada prinsip Bebas aktif ( bebas dan aktif), pelanggaran kedaulatan negara lain-terlepas dari sifat rezimnya-adalah pil pahit. Ketakutannya adalah jika AS dapat ‘menjemput’ seorang presiden di Caracas hari ini, Tidak ada Negara di Dunia Selatan yang akan aman dari intervensi eksternal besok.

Antara prinsip dan pragmatisme

Namun ada pembagian yang dalam di bawah permukaan. Para kritikus, termasuk mantan diplomat terkemuka Dino Patti Djalal, secara terbuka mempertanyakan Mengapa Jakarta begitu pendiam. ‘Sejak kapan kita takut mengkritik seorang sahabat karena melanggar hukum internasional?’kritik itu berbunyi, menunjuk pada kontras dengankecaman keras Indonesia sebelumnya atas invasi ke Irak.

Namun, kenyataannya pragmatis:

  • Kepentingan ekonomi: Indonesia berada di tengah pembicaraan perdagangan yang rumit dengan pemerintahan Trump. Serangan diplomatik frontal terhadap Washington bisa berarti bunuh diri ekonomi.
  • ‘Paradoks diktator’: Jakarta tidak ingin dilihat sebagai pembela rezim otoriter yang mencekik rakyatnya sendiri. Dengan berfokus pada ‘dialog’ dan ‘piagam PBB’, Indonesia berusaha mempertahankan landasan moral yang tinggi tanpa secara eksplisit mendukung Maduro.

Catur ulang Amerika Selatan

Ahli strategi Indonesia melihat dengan campuran harapan dan ketakutan pada kemungkinan pergeseran politik di Amerika Selatan. Venezuela yang lebih stabil dan demokratis dapat menenangkan pasar energi global-kekhawatiran kritis bagi perekonomian Indonesia.

Pada saat yang sama, Indonesia melihat AS membangun kembali pengaruhnya di halaman belakang China dan Rusia. Di dunia yang semakin terpolarisasi, Jakarta khawatir jatuhnya Maduro bukanlah akhir dari mimpi buruk, melainkan awal era baru di mana kekuatan militer sekali lagi melampaui kedaulatan diplomatik.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *