Dilema Karbon

Investing in Belize

Dilema Karbon

Hindou Oumarou Ibrahim
Spread the love

Apakah REDD+ Sebuah Keajaiban Hijau atau “Izin untuk Mencemari”?

Di ruang rapat raksasa minyak multinasional dan di rimbunnya kanopi hutan hujan Indonesia, dua percakapan yang sangat berbeda terjadi mengenai hal yang sama: REDD+.

Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) dirancang sebagai jembatan antara dunia industri dan alam. Konsepnya sederhana: perusahaan kaya membayar negara berkembang untuk menjaga hutan mereka tetap tegak, dan sebagai imbalannya, mereka menerima “kredit karbon”. Namun, seiring meningkatnya krisis iklim, debat etika yang sengit mulai membakar gerakan lingkungan. Apakah REDD+ alat vital untuk konservasi, atau sekadar “izin untuk mencemari” yang canggih?


Mekanisme Rasa Bersalah

Pada intinya, dilema etika REDD+ terletak pada offset (penyeimbangan). Ketika sebuah perusahaan membeli kredit yang mewakili satu ton karbon yang “diselamatkan” di hutan, mereka menggunakan kredit tersebut untuk membatalkan satu ton karbon yang mereka pancarkan dari cerobong asap atau knalpot pesawat.

Para kritikus berpendapat bahwa hal ini menciptakan bahaya moral yang besar. Bukannya melakukan kerja keras untuk dekarbonisasi rantai pasokan mereka—seperti beralih ke energi terbarukan atau mengurangi produksi—perusahaan cukup menulis cek.

“Offset adalah gangguan berbahaya dari kebutuhan untuk mengakhiri ekstraksi bahan bakar fosil,” kata Anselmo Lee, seorang aktivis hak asasi manusia yang berfokus pada kebijakan iklim Asia. “Hal ini membiarkan pencemar mempertahankan pola pikir ‘bisnis seperti biasa’ sambil mengklaim bahwa mereka ‘net zero’. Anda tidak bisa menyeimbangkan jalan keluar dari rumah yang sedang terbakar.”

Jebakan “Adisionalitas”

Etika menjadi lebih keruh ketika kita melihat bagaimana kredit ini dihitung. Untuk mendapatkan kredit, sebuah proyek harus membuktikan “adisionalitas”—bahwa hutan tersebut akan hancur jika bukan karena uang tersebut.

Hal ini menyebabkan munculnya “kredit hantu”, di mana pengembang mengklaim mereka menyelamatkan hutan yang sebenarnya tidak pernah terancam. Ketika sebuah perusahaan menggunakan kredit palsu untuk membenarkan polusi yang nyata, atmosfer menderita kerugian dua kali lipat.

Nnimmo Bassey
Nnimmo Bassey

Nnimmo Bassey, seorang aktivis lingkungan ternama asal Nigeria dan direktur Health of Mother Earth Foundation, telah menjadi salah satu kritikus paling vokal terhadap pendekatan berbasis pasar ini:

“Perdagangan karbon adalah bentuk kolonialisme baru. Ini tentang memberi harga pada alam dan mengubah hutan kita menjadi ‘penyerap karbon’ untuk kepentingan negara-negara Utara, sementara para pencemar terus meracuni udara di tempat lain.”


Manusia vs. Kertas: Dampak Terhadap Masyarakat

Mungkin dilema etika yang paling menyakitkan adalah dampaknya terhadap Masyarakat Adat. Dalam banyak kasus, proyek REDD+ telah mengubah tanah leluhur menjadi “zona terlarang” untuk melindungi stok karbon yang telah dijual kepada investor asing.

Aktivis berpendapat bahwa sistem ini mengkomodifikasi hal-hal yang sakral. Bagi banyak kelompok adat, hutan adalah sumber kehidupan, obat-obatan, dan spiritualitas—bukan sekadar buku besar berisi tonase karbon.

Hindou Oumarou Ibrahim
Hindou Oumarou Ibrahim

“Kami diberitahu bahwa kami tidak boleh berburu atau bertani di tanah kami sendiri karena karbonnya telah dijual kepada perusahaan di seberang samudra,” kata Hindou Oumarou Ibrahim, seorang pemimpin adat dari Chad. “Alam bukanlah komoditas untuk diperdagangkan di bursa efek. Alam adalah sistem pendukung kehidupan kita.”

Pembelaan Terhadap “Izin Mencemari”

Para pembela REDD+ berpendapat bahwa sistem ini memang tidak sempurna, tetapi sangat diperlukan. Mereka menunjukkan bahwa tanpa modal swasta ini, jutaan hektar hutan mungkin sudah musnah menjadi peternakan sapi dan perkebunan kedelai. Mereka mengajukan pertanyaan yang menghantui: Jika kita tidak menggunakan pasar karbon, siapa yang akan membayar triliunan dolar yang dibutuhkan untuk menjaga hutan tropis tetap tegak?

Namun, arus mulai berubah. Di forum seperti COP30, dorongan untuk mekanisme seperti Tropical Forest Forever Facility (TFFF)—yang membayar negara-negara atas hutan mereka tanpa membiarkan perusahaan menggunakannya sebagai penyeimbang polusi—menunjukkan keinginan kuat untuk merobek “izin mencemari” tersebut.


Catatan Penutup

Perjuangan etika atas REDD+ adalah perjuangan atas jiwa gerakan iklim. Bisakah kita menyelamatkan planet ini dengan menggunakan alat pasar yang sama dengan yang merusaknya? Atau haruskah kita menemukan cara untuk menghargai hutan hanya karena ia adalah hutan, terlepas dari emisi industri yang dipaksa untuk “diseimbangkan”?

Selama kredit karbon memungkinkan pembangkit listrik tenaga batubara di Eropa tetap buka dengan “menyelamatkan” pohon di Amazon atau Kalimantan, label “izin untuk mencemari” akan sulit dihilangkan. Masa depan konservasi mungkin bergantung pada kemampuan kita untuk melindungi pohon tanpa memberi para pencemar jalan keluar yang mudah.

eyesonindonesia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *